Standar Karakter Utama

Sebagai pengamat amatir dunia perfilman, aku kadang-kadang suka mikir, kalau tanpa kusadari, setiap film dari negara yang berbeda itu punya standar yang beda dalam menampilkan tokoh utamanya. Aku sebenernya lebih fokus untuk mengamati drama romantis-komedi, sih. karena drama-drama kaya gini pasarnya jelas, yang nonton jelas. sehingga lebih bisa dianalisis ketimbang drama dengan genre lain.
pinterest.com



Sebagai contoh, Korea kerap kali menayangkan seorang manusia yang udah kaya setengah dewa. macam Gu Jun Pyo aja, Ganteng, Kaya, Baik Hati, sedikit kocak dan abis-abisan buat cewe yang disukainya. Bukan sampai disitu aja, Gu Jun Pyo yang notabenenya masih anak SMA aja udah sanggup buat ngebiayain cewenya penuh buat liburan ke Maldives, sampe sewa-sewa Helikopter segala. semuanya buat cewenya. beda banget sama cewenya yang gak pinter-pinter amat, galak, misquen, benci sama Gu Jun Pyo. Kalau dipikir-pikir, hampir semua drama korea sih gambaran umumnya gini ya. cowo sempurna x cewe misquen. jarang sih ada drama yang ceritanya tentang cowo misquen. kalau ada juga gabakal terkenal banget. ini nunjukin bahwa seleranya orang korea mah gitu. yang perfect kan. kalau dari yang aku liat sih ini nunjukin budayanya orang korea yang selalu menjunjung tinggi kesempurnaan, dan harapan itu tergambar jelas dalam satu karakter bernama Gu Jun Pyo.
pinterest.com

Lain Korea, lain pula Taiwan. Negara yang satu ini lebih menekankan tokoh utamanya sebagai pembelajar yang baik, kalaupun dia nakal pada suatu titik dia akan berubah jadi lebih baik. jadi di Taiwan, ya dituker-tuker aja sih. kalau gak cewenya bodo cowonya pinter, ya sebaliknya cowonya bodo cewenya pinter. tapi biar bagaimanapun awal mulanya, pasti nantinya si tokoh utama akan jadi nurut sama pasangannya dan jadi lebih sering belajar. kelihatan banget disini si pembuat film menonjolkan budaya china yang paling terbayang di otakku : semua orang china itu rajin belajar. dan yap di kebanyakan film romkom ya akhirnya selalu begitu. tokoh populer yang menjadi referensi dari argumen ini adalah tokoh Jiang Chen dalam A love so Beautifull, Ko Ching Teng dalam Youre the Apple of  My Eyedan Hsu Taiyu dalam Our Times.

pinterest.com
Kalau kita bergeser lagi ke Amerika, kalian bisa liat tokoh-tokoh yang sangaaat independen. kalian hampir ga akan bisa menemukan seorang wanita lemah dalam suatu film sekolahan amerika. kalaupun ada, itu cuma sementara,  biasanya di belakang-belakang si cewe itu bakal berkembang menjadi lebih mandiri, independen, seksi dan dewasa. ga bakal juga kalian temui cewe yang mewek karena cowo. cowonya juga tipe-tipe maskulin gitu. gak ditonjolkan kekayaannya, pinter, tapi wajib berkarisma. jadi ya hampir rata-rata film holywood itu kaya gitu semua. lihat aja, Spiderman marvell, Sky High, Harry Potter, Twilight, dan film-film lainnya, ngga ada yang mewek-mewek lemah gitu, kan? 

Nah, sekarang mari kita kembali ke Indonesia. Indonesia punya standar yang rada aneh soal pemain utamanya. setidaknya ada beberapa tokoh yang sangat populer di Indonesia yang mempunyai karakter yang kurang lebih sama : Lupus, Boy anak Jalanan, dan yang baru-baru ini digandrungi, Dilan. ketiga tokoh ini amat sangat dikagumi oleh sebagian besar remaja Indonesia pada zamannya. Yang buat aku bingung, sangat berbeda dari ketiga negara diatas, karakter di Indonesia menurutku bukanlah sosok yang sempurna bahkan sampai di akhir cerita. mereka semua serupa, seorang Bad Boy yang biasa-biasa aja di sekolahan, malah ada yang berandal (Boy anak jalanan mungkin bukan berandal secara gamblang, tapi beberapa kegiatannya dalam sinetron itu menunjukkan kalau dia bukan pula seorang cowo yang baik-baik amat). kekerenannya ada pada kenakalan itu sendiri. makanya, di Indonesia kan terkenal kata-kata "gapapa bandel asal ga kelewat batas" yang menunjukkan bahwa sebagian besar remaja indonesia ternyata sangat menyukai lelaki yang nakal tapi gak kelewat batas. hmm.

Dari beberapa hal yang aku paparkan diatas, aku jadi berkesimpulan kalau suatu karakter dalam suatu drama/sinetron/film populer bergenre romantis komedi sebenarnya sangat menggambarkan pola pikir, harapan, karakter serta budaya dari remaja-remaja pada sebuah negara. Sebuah karakter populer itu sangat powerfull sehingga dapat mengubah kesukaan bahkan kehidupan remaja dari sebuah negara.

Nah, karena karakter populer itu menggambarkan harapan negara akan generasinya, ternyata 'hanya sampai segitu' harapan remaja Indonesia di masa depan. bukannya berharap menjadi lebih baik, kebanyakan sinetron/drama/film Indonesia fokus pada percintaan yang baik. padahal, drama romantis gak melulu harus selalu romantis. You know what i mean? liat aja A Little Thing Called Love yang booming itu. ada gak sih si Shone romantis-romantisan sama Nam? ada gak sih Shone ngegombalin Nam? Atau, webdrama a love so beautifull, malah lebih banyak adegan belajarnya. maksudku, bukannya lebih bagus kalau di dalam suatu film itu, diselipin dikit aja adegan yang bisa jadi pemacu generasi untuk jadi lebih baik, gitu.


Alangkah lebih baiknya kalau ada perubahan positif yang menyertai si tokoh utama. biar lebih greget. haha. udahan dulu tulisannya ngalur ngidul ini, semoga tercerahkan!



0 comments:

Post a Comment